Header Ads

Review #1 - Grey & Jingga: The Twilight



Pada post pertama saya di blog ini, saya akan membahas sebuah komik Indonesia. Komik ini adalah komik Indonesia versi cetak pertama yang saya beli. Dan akhirnya mampu membuat saya jatuh cinta kepada komik Indonesia yang sebelumnya hanya saya pandang sebelah mata. Okay, langsung saja menuju topik pembahasan.



  • Judul                     : Grey & Jingga: The Twilight 
  • Penulis                   : Sweta Kartika 
  • Penerbit                 : m&c! 
  • Tahun terbit           : 2014 (cetakan 1), 2015 (cetakan 3) 
  • Tebal                     : 200 halaman
Sweta Kartika lahir pada tanggal 14 April 1986 di Kebumen, Jawa Tengah. Ia adalah lulusan dari Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Insitut Teknologi Bandung untuk jenjang S1 dan S2.
Sweta Kartika sudah menggemari dunia komik sejak kecil. Pria yang juga memegang divisi komik di Wanara Studio ini terinspirasi dari berbagai komik Amerika, Eropa, dan manga Jepang. Seperti komik Dragon Ball, Marvel, dan Tintin.  Beberapa karya Sweta yang sudah dicetak antara lain; The Dreamcatchers (2011), Grey & Jingga: The Twilight (2014), Pendekar Tongkat Emas (2014), Grey & Jingga: Coffee42 (2014), Grey & Jingga: Days of The Violet (2015), Wanara (2015), dan H2O: Reborn (2015).
Baiklah, langsung saja kita membahas soal komik ini. Grey & Jingga: The Twilight merupakan salah satu komik karya Sweta Kartika. Diterbitkan oleh m&c! pada tahun 2014. Saya membeli komik ini pada pertengahan tahun 2015 lalu, sehingga sangatlah tidak mungkin saya mendapatkan versi cetakan pertama dari komik yang bisa dibilang sangat laris di pasaran ini. Salah satu faktor yang menyebabkan komik ini laris di pasaran adalah komik ini sebenarnya adalah komik strip yang sebelumnya diunggah oleh Mas Sweta di Facebook sejak tahun 2012. Jadi tidaklah heran bahwa komik ini laris dikarenakan banyaknya pembaca setia di Fecebook yang langsung membeli komik ini saat diterbitkan.

Kisah mereka barat langit sore, the twilight. Jingga serupa kanvas oranye yang membentang di nirwana senja, sementara Grey adalah sekumpulan awan kelabu yang mengantar ia pulang.

Kira kira begitulah gambaran dari komik Grey & Jingga: The Twilight ini. Bercerita tentang lika-liku kisah cinta di antara Grey dan Jingga, dua teman masa kecil yang secara tidak sengaja bertemu di kampus yang sama. Grey adalah seorang pemuda yang terkesan cuek tetapi sebenarnya adalah sosok yang perhatian dan peka. Ia adalah seorang mahasiswa di jurusan seni musik.
Lalu, Jingga adalah teman masa kecil Grey. Dan karena hal ini pula Jingga menjadi dekat dengan Grey. Jingga adalah mahasiswi jurusan sastra. Ia memiliki sifat yang terkesan jutek tetapi sebenarnya adalah gadis yang baik dan perhatian. Di balik sifat judesnya tersebut, ternyata ia juga memiliki sifat sensitif perempuan pada umumnya. Terlihat pada saat Jingga dihadapkan dengan berbagai masalah yang menyangkut ia dan Grey, ia lebih sering menggunakan perasaannya, seperti wanita pada umumnya.
Cerita berawal dari pertemuan antara Grey dan Jingga yang terjadi secara tidak sengaja dan akhirnya mereka berdua menyadari bahwa mereka dulunya adalah teman masa kecil di saat dulu kala. Seiring berjalannya waktu Jingga mulai memendam rasa cinta kepada Grey. Ia pun mulai mencari perhatian kepada Grey. Di sisi lain, Grey malah menanggapi sikap Jingga tersebut dengan sikap yang terkesan cuek yang menambahkan bumbu kekonyolan pada kisah cinta di sini. Walaupun terkadang Grey juga menanggapi dengan sikap yang perhatian yang mungkin mampu membuat pembaca tersenyum kecil.
Kedekatan mereka semakin erat dan pada akhirnya mereka dihadapkan pada masalah mereka masing-masing yang mungkin mampu memengaruhi hubungan mereka berdua yang sudah sangat dekat. Grey dihadapkan kepada seseorang dari masa lalu yang kembali lagi. Seseorang yang tak pernah terduga oleh Grey akan kembali lagi ke kehidupannya. Seseorang yang pernah memendam rasa cinta kepada Grey di masa lalu.
Di sisi lain, Jingga menghadapi masalah, yaitu kebimbangan antara menunggu atau berpindah ke lain hati. Di tengah kebimbangan tersebut, tiba-tiba hadirlah seseorang yang membuat Jingga semakin bimbang tak karuan.
Dari kedua masalah inilah konflik pada komik ini berawal. Konflik antar perasaan yang saling bercampur aduk. Mampukah mereka melewati masalah mereka masing-masing dan akhirnya kembali bersama? Well, kita lihat saja nanti.
Dari sisi cerita, pada komik ini alur cerita terkesan mudah ditebak. Tetapi hal tersebut mungkin dapat ditutupi oleh adanya beberapa bagian cerita yang memiliki akhir yang tak terduga dan dapat menggelitik pembaca. Lalu dari sisi penggambaran dan visual, komik ini terlihat sangat khas. Yang saya maksud di sini adalah goresan tangan Mas Sweta yang terlihat sangat khas dan tidak jauh berbeda dari komiknya yang lain.
Dan ada satu hal yang membedakan komik ini dari komik pada umumnya, yaitu quotes. Pada setiap akhir halaman pada komik ini pasti terdapat sebuah quotes yang saling berhubungan dengan cerita pada halaman tersebut. Menurut saya, quotes tersebut sangatlah quotable. Mungkin juga dapat digunakan untuk stok caption pada Instagram atau apalah. Hehe. Dan secara pribadi saya lumayan menyukai berbagai quotes yang terdapat pada setiap halaman tersebut.
Dan sesuai dengan kategori komik ini yaitu komik remaja, menurut saya komik ini memang sangatlah cocok dengan kategori tersebut. Di mana masa remaja adalah masa-masa untuk jatuh cinta.
Lalu sebelum saya menutup post ini, izinkanlah saya  mengutip beberapa quotes dari komik Grey & Jingga: The Twilight ini. Dan terakhir, terima kasih sudah membaca review komik saya yang pertama ini. Have a nice day.
 
Cinta itu menumbuhkan keberanian untuk memiliki dan untuk melepaskan.
Cinta itu mengakar dan sulit tersamar.
Cinta itu apa adanya.
Cinta itu penuh cerita.
Dan cinta mempersenyawakan dua hati.

Powered by Blogger.